Rabu, 29 April 2015

HARDIKNAS 2 MEI 2015

Masih ingatkah kalian dengan semboyan "Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" ? Perlu Kalian tahu semboyan tersebut adalah semboyan yang dituturkan oleh Bapak Pendidikan kita, beliu Bapak Ki Hajar Dewantara. Nah, sebagai siswa yang baik dan berprestasi pastinya kita tidak akan lupa akan perjuangan beliau dalam menentang kebijakan pendidikan pemerintahan Hidia Belanda.

Karena pada saat itu hanya anak - anak kaum Belanda dan kaum kaya yang diperbolehkan untuk mengeyam bangku pendidikan. Wuuhhhh.... tragis bukan??

   Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dengan nama asli R.M Suwardi Suryaningrat. Beliau lahir dari keluarga keraton Yogyakarta, Beliau mengganti namanya tanpa gelar bangsawan agar dapat lebih dekat dengan rakyat. Selama hidupnya ada kalimat sindiran dari beliau untuk Belanda yang merayakan 100 tahun kemerdekaannyaa dan Perancis di negeri jajahan dengan menggunakan uang rakyat indonesia. Akibatnya, Ki Hajar Dewantara mendapat hukuman pengasingan dari Belanda dan Berikut ini kutipannya.

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh Si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu ! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya” .

Ajaran Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Artinya adalah di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan. Berkat jasanya yang besar di bidang pendidikan maka pemerintah menetapkan beliau sebagai Bapak Pendidikan dan tanggal lahirnya, 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Pada tahun 1957, beliau mendapat gelar Doctor Honoris Causa dan UniversitaS Gadjah Mada. Dua tahun setelah mendapat gelar tersebut, beliau meninggal dunia pada tanggat 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.


0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com